Terapi radiasi adalah terapi sinar
menggunakan energi tinggi yang dapat menembus jaringan dalam rangka membunuh
sel neoplasma.Penyembuhan tumor menggunakan terapi radiasi harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut.
1. Belum
didapatkannya sel tumor di luar area radiasi.
2. Tipe tumor
yang radiosensitif.
3. Besar tumor
yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya.
4. Dosis yang
optimal.
5. Jangka waktu
radiasi tepat.
6. Sebisa-bisanya
menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah.
1. Merupakan
terapi yang sifatnya lokal dan regional.
2. Mematikan
sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor.
3. Memiliki
kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
4. Ionisasi
yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
5. Memiliki
kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor
sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya.
6. Berguna
sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
7. Walaupun
pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan
defek imun secara general.
Selain itu terapi radiasi dapat menyebabkan efek
samping pada pasien terpai radiasi. Efek sampingnya antara lain.
1. Radiomukositis,
stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2. Pendengaran
menurun.
3. Pigmentasi
kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
4. Pada terapi
kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan gangguan
gastrointestinal.
5. Lhermitte
syndrome karena radiasi myelitis.
6. Hypothyroidism
Pengaruh pemberian terapi radiasi pada pasien secara
luas dilaporkan bahwa terjadi gangguan terhadap sel limfosit T, yang akibatnya
memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi. Pasien dengan tumor primer di
leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah diberikan radiasi
mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan. Jumlah
limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel
limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel
limfosit T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan
fungsi dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro.
Apakah defek jumlah dan fungsi limfosit T pada penderita yang diterapi
radiasi dapat reversibel? Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan
normalisasi sel limfosit T CD4+ setelah 3-4 minggu pasca radiasi.
Efek
samping lain yang umum terjadi adalah perubahan kulit pada area yang diterapi.
Setelah beberapa kali biasanya kulit tampak merah, gosong, lama-kelamaan
mengering dan gatal. Tetapi ada juga yang sebaliknya: kulit menjadi lembab,
basah, dan mengalami iritasi/lecet, terutama di lipatan-lipatan tubuh. Tetapi
untuk efek samping ini akan hilang
setelah beberapa minggu dilakukan terapi radiasi tersebut. Selain itu,
radioterapi di daerah kepala dapat menyebabkan rambut rontok sebagian atau
seluruhnya. Tetapi setelah terapi selesai rambut akan tumbuh
lagi, walau tekstur dan warnanya mungkin sedikit berbeda.
Radioterapi
pada kanker payudara dapat menyebabkan bahu agak sulit. Efek samping lainnya
adalah kulit menjadi sedikit gosong, iritasi, atau bengkak..Efek lain yang
sering terjadi pada radiasi di daerah dada adalah sakit saat menelan, batuk,
demam, dan sesak nafas. Terapi radiasi pada daerah perut dapat menyebabkan
perut mulas, mual, maupun diare.
